Senin, 03 Agustus 2009

Catatan Perjalanan di "Nuras"


Disebelah utara Kec.Nagreg, tepatnya Kp.Nenggeng Desa Citaman terdapat sebuah mata air. Sepanjang masa airnya tak pernah mengering. setiap tahun ditempat ini dilakukan upacara sakral;memuji sukur terhadap penguasa alam beserta isi. Amitsun, demikian masyarakat menyebutnya. Upacara ini berisikan kegiatan bersama membersihkan saluran mata air yang terdapat di kampung tersebut, agar airnya mengalir dengan baik. Bergotong-royong masyarakat membersihkan saluran dan mata airnya, pada rangakaian acara masyarakat menyembelih seekor kambing hitam tepat dilokasi mata air berada, untuk kemudian dagingya diolah dan dinikmati.
Ungkapan rasa tafakur yang pada intinya bersyukur kepada yang Kholik bahwa telah diberi berkah dan kesejahteraan yang melimpah dengan hadirnya air . Digambarkan dalam upacara ini dengan dipertunjukannya helaran atau arak-arakan (parade seni) dan pentas kesenian rakyat “tradisional”.
Pada segmen helaran, simbol-simbol kesuburan yang digambarkan dalam aneka macam makanan dan hasil tani yang diarak keliling kampung. Tetabuhan serta nyanyian mengisi kemeriahan upacara ini. Pada penghujung acara masyarakat berkumpul memusatkan syukuran dilokasi mata air, menikmati segala hidangan sambil menyaksikan beberapa bentuk kesenian rakyat yang sudah jarang ditemukan, seperti : Reog sunda (dog-dog), Karinding, Beluk, Calung, Gondang dan lain sebagainya.
Tahun 1965 upacara ini tidak dilakukan, tetapi tahun 2004 lalu kembali dilakukan meski dengan kemasan yang sederhana;tidak mewujudkan bentuk keseluruhan “Nuras”. Tahun-tahun berikutnya hingga 2007 sekarang tidak dilakukan kembali, padahal keberadaan upacara tersebut sangat besar manfaatnya bagi masyarakat Kp.Nenggeng. semestinya harus dilestarikan dan dijaga.
Perlu ada kajian serta penggalian kembali terhadap “Nuras”, sebagai cara untuk mempertahankan satu bentuk kekayaan budaya, aset bangsa yang sudah jarang ditemukan bahkan hampir punah.


- Latar belakang sejarah daerah

Kecamatan Nagreg, Kab.Bandung, Jawa Barat adalah salah satu daerah yang menyimpan ke-sejarahan Sunda, didaerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kendan sekitar abad ke-4, rajanya yang pertama bernama Resiguru Manik Maya, ia seorang resi yang luhung sehingga pada masanya kerajaan ini sangat dihormati dan lindungi oleh kerajaan-kerajaan lain, terutama oleh kerajaan Tarumanegara. Karena Resiguru menikah dengan seorang putri dari tarumanegara yang bernama Tirta Kencana, putri dari raja Tarumanegara ke-9 yaitu Maharaja Suryawarman.
Berikut keterangan yang tertuang dalam naskah (Carita Parahyangan) yang diteliti dan diterjemahkan oleh Atja dan Saleh Danasasmita :

“ Hawya Ta Sira Tinenget: janganlah ia ditolak, karena dia itu menantu maharaja, mesti dijadikan sahabat, lebih-lebih karena sang resiguru Kendan itu, seorang Brahmana yang ulung dan telah banyak berjasa terhadap agama. Siapapun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan”
( Danasasmita, 1983:41 )

“ Ndeh Nihen carita parahyangan. Sang Resiguru mangyuga Rajaputra. Miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahyangta Dewaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan maneh Rahyangta Ri Medangjati, inya sang Layuwatang. Nya nu nyieun Sanghyang Watang Ageung ”

“ ya, inilah kisah para leluhur. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati, sepasang kakak beradik. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi Rajaresi menamakan dirinya Rahyangta di Medangjati. Yaitu Sang Layungwatang. Dialah yang membangun balairung besar”.
( Carita parahyangan, Atja,Danasasmita, 1983:37-38 )


Keberadaan Kendan menjadi penting adanya, karena sebagai sebuah karesian Kendan menjadi tempat para prajurit Tarumanegara di tempa, salah satunya yaitu Suraliman Sang Rajaputra, yaitu raja ke-2 Kendan yang merupakan anak dari Manik Maya, ia dijadikan panglima perang di Tarumanega (Yudhapena), kemudian Kendan menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Galuh di Jawa, karena pada raja ke-4 Kendan yaitu Sang Rajaresi Wretikendayun, Kendan memisahkan diri menjadi kerajaan Galuh dengan mendirikan ibu kota baru disebelah timur Kendan, tepatnya diantara sungai Citandui dan Cimuntur.

Hingga sekarang keberadaan sejarah Kendan ini masih diliputi kemisteriusan, salah satu peninggalan sejarah yaitu arca Dewi Durga kecil yang ditemukan diseputar wilayah Kendan tepatnya di Kp.Pamujaan Desa Citaman-Nagreg belum memeperjelas kesejarahan Kendan. Kini keberadaan artefak sejarah tersebut disimpan di musium nasional Jakarta.
Latar belakang sejarah tersebut menjadi salah satu landasan, bahwa daerah Nagreg merupakan daerah budaya yang harus dikaji, dijaga dan dikembang segala potensinya.

Erat sejarah tersebut dengan adanya salah satu upacara budaya yang disebut “Nuras” di daerah Nagreg, tepatnya di Kp.Nenggeng, Desa Citaman. Oleh sebab itu perlu ada kajian serta penggalian dalam kerangka observasi yang lebih mendalam terhadapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar